Ilmu itu mencerahkan dan menggerakkan !

hangat, padat, aktual, Universal

kisah Ringan : Kita sering kali “lebih menyukai” tertipu…

Posted by bukan.apa.apa pada Juli 27, 2010

By : dzulfikar

بِسْـــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم
اللهم صلِّ على محمد (ص) و آل (ع) محمد (ص) و عجل فرجهم (ع .

Sedikit demi sedikit, tamu – baik undangan atau bukan – mulai berdatangan pada sebuah acara seminar dengan nara sumber beberapa Pakar yang mumpuni di bidang ilmu mereka.. Melihat tempat, dan gelar para Pakar yang di undang untuk mengisi acara, serta gelombang tamu yang terlihat makin banyak, tampaknya seminar tersebut merupakan seminar yang sangat penting…

Beberapa peserta mulai memasuki ruang acara, melewati seorang berpakaian sederhana dan berpenampilan bersahaja yang kebetulan duduk santai dan sesekali menunduk pada tempat yang tidak jauh dari arus keluar masuknya para peserta seminar…

Melihat penampilan para peserta seminar, cukup banyak yang kelihatannya berasal dari kalangan ekonomi menengah keatas. Simbol-simbol identitas kaum “berpunya” itu sekilas bisa diamati dari kendaraan, dan pakaian – pakaian –yang terhitung bukan sederhana – yang mereka kenakan…

Makin lama- makin banyak peserta mulai berdatangan. Sambil bersikap acuh tak acuh dan bahkan tidak sedikit yang terkesan sinis terhadap pria tadi, mereka memasuki ruang seminar- melewati pria tadi- untuk menghadiri acara seminar tepat pada waktunya. mungkin saja terbersit –dalam pikiran mereka – bahwa pria tersebut adalah rakyat jelata dan masyarakat sederhana pada umumnya yang minim pendidikan. Atau bisa jadi mereka menganggapnya sebagai orang yang memiliki kelas dan derajat status sosial rendah dibanding mereka.

Acara seminarpun akhirnya dimulai,dan para peserta telah menempati posisinya masing-masing. lalu panitia pun mulai untuk membacakan susunan acara yang akan berlangsung selama penyelenggaraan seminar tersebut. Nama-nama Para Pakar yang rencananya akan mengisi acara tersebutpun mulai diumumkan kembali. Bagi Peserta seminar, nama-nama para pakar tersebut ada yang telah mereka kenal baik nama dan wajahnya, ada yang hanya mereka kenal nama saja tapi tak kenal wajah, dan banyak juga yang nama dan wajah nya tidak mereka kenal sama sekali.

Acarapun berlangsung dengan tertib, hikmat, hingga tibalah pada sesi presentasi dari Pakar yang terakhir. Para peserta sejenak bertanya-tanya, siapa gerangan Pakar terakhir tersebut ?…karena tampaknya, hampir kebanyakan hadirin hanya tahu nama pakar tersebut tanpa pernah bertemu dengan orangnya, atau bahkan belum mendengarnya sama sekali apalagi melihat wajahnya

Sebagaimana seringnya sebuah Acara diskusi / Seminar, kebanyakan penyaji terakhir adalah penyaji yang bisa dianggap memiliki kesempurnaan ilmu yang lebih baik dibanding pakar sebelumnya. Atau minimal, dia menjadi pembicara inti dibanding semua pakar yang tampil lebih awal darinya.

Tidak lama kemudian, keluarlah dari balik pintu yang tepat berada dipojok kiri depan para peserta seminar, seorang sosok yang tadinya telah mereka lihat dan amati (bahkan dengan acuh tak acuh dan sinis ) pada saat mereka akan memasuki ruang seminar tadi . Pria itupun langsung menempatkan dirinya pada tempat duduk yang disediakan khusus bagi penyaji/nara sumber seminar.

Ya, Ternyata pembicara terakhir dari sesi seminar tersebut adalah pria yang tadi duduk tenang, berpenampilan sederhana dan bersahaja, yang terkadang menunduk, dan tidak menarik perhatian sama sekali……..

Diantara para hadirin dan peserta seminar, terdengar bisik-bisik ….intinya, mereka kaget dan terkesima, seakan tidak percaya….ternyata, orang yg mereka sepelekan dan dianggap berilmu “kelas teri”…adalah seorang pakar berilmu “kelas kakap”….Tidak sedikit diantara para peserta seminar yang menyesali diri mereka karena terlalu cepat menilai negatif dan rendah seseorang dari penampilannya yang tidak menarik perhatian sama sekali.

Dan terbukti akhirnya, bahwa pakar terakhir tersebutlah –dengan keluasan ilmunya-, yang membuat acara seminar tersebut betul-betul menujukkan kelas dan bobotnya yang patut diacungkan jempol , sehingga layak untuk disebut seminar yang berkualitas.

Peristiwa ini mengingatkan kami akan pesan guru kami….
“BELIAU” yang tercinta mengatakan : “don’t judge the book by its cover…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: