Ilmu itu mencerahkan dan menggerakkan !

hangat, padat, aktual, Universal

TAXMAN : “Anda bekerja bukan untuk siapapun , kecuali bagiku”..

Posted by bukan.apa.apa pada Juli 26, 2010

By : dzulfikar

Taxman : petugas pajak

Atas Asma-NYA Yang Maha Sempurna
Shalawat bagi Nabi-NYA SAAW…

Let me tell you how it will be,
There’s one for you, nineteen for me,
‘Cause I’m the Taxman,
Yeah, I’m the Taxman.
Should five per cent appear too small,
Be thankful I don’t take it all.
‘Cos I’m the Taxman,
Yeah, I’m the Taxman.

(If you drive a car ), I’ll tax the street,
(If you try to sit ), I’ll tax your seat,
(If you get too cold ), I’ll tax the heat,
(If you take a walk ), I’ll tax your feet.
Taxman.

‘Cause I’m the Taxman,
Yeah, I’m the Taxman.
Don’t ask me what I want it for
(Taxman! Mister Wilson!)
If you don’t want to pay some more
(Taxman! Mister Heath!),
‘Cause I’m the Taxman,
Yeah, I’m the Taxman.

Now my advice for those who die, (Taxman!)
Declare the pennies on your eyes, (Taxman!)
‘Cause I’m the Taxman,
Yeah, I’m the Taxman.
And you’re working for no-one but me,
……………………………………………………………………..TAXMAN : By The Beatles…


Pajak merupakan momok yang menakutkan bagi para pekerja seni ingris di tahun 1960. hampir sebagian besar pengahsilan mereka akan terkuras oleh pajak yang ditetapkan pemerintah Inggris bagi mereka. Semua pemusik terkena dampaknya, termasuk juga The Beatles. Karena kondisi inilah mereka akhirnya menciptakan lagu “pemberontakan” mereka terhadap tukang pajak (lembaga dan personilnya) di Inggris. Lagu tersebut mereka beri judul TAXMAN…

Taxman adalah lagu brillian dengan sentuhan heavy rock berhiaskan melodi cantik dengan cabikan rough hard lead guitar.

Selain merupakan kritik bagi Pemerntah Inggris yang menerapkan “progressive Tax” yang terlalu tinggi, lagu ini juga merupakan penghormatan yang besar bagi bagi George Harrison, karena bukan hanya sebagai penulis lagu, bahkan lagu ini pun dipakai sebagai lagu pembuka album Revolvernya The Beatles yang dibuat tahun 1966

Dalam sebuah interview, Richie Unterberger dari majalah “ allmusic” yang didirikan tahun 1991 pernah berujar bahwa “ Revolver is where Harrison “came more to the fore, not only writing three songs but also getting honored with the album-opener.”

Paul Mc Cartney yang dikenal sebagai Bassist The Beatles – yang dalam lagu Taxman justru berperan memainkan gitar –, dalam wawancara dengan majalah magazine di tahun 1991 menyatakan bahwa George menulis lagu ini dengan perasaan marah yang sangat terhadap apa yang telah dilakukan Petugas (lembaga) pajak terhadap pendapatan / hasil mereka. George tidak pernah mengetahui keadaan ini (tingginya pajak) sebelum akhirnya dia mengetahui apa yang terjadi dengan uangnya….

Mahalnya pajak Hiburan dan Entertain di Inggris menyebabkan banyak para pekerja seni dan hiburan meninggalkan negara tersebut menuju negara lain dengan tujuan agar penghasilan / pendapatan yang mereka dapatkan tidak habis hanya sekedar untuk membayar pajak. Selain The Beatles ,- Rolling Stones dan The Who-, yang juga memiliki nasib sama sebagai “The tax exiles”, juga telah menghabiskan banyak waktu mereka di Amerika dan bagian eropa lainnya, untuk menghindar dari tarikan pajak Britain yang sangat memberatkan.

Lirik “TAXMAN” yang memberontak terhadap fenomena lembaga pajak inggris tersebut, terasa masih sangat relevan dengan kondisi kekinian…

Sebagaimana kita ketahui, sumber pendapatan Negara setidaknya terdapat dalam 3 kategori :
1. Sumber alam
2. Pajak
3. Hasil ekspor impor

Kita sering mendengar slogan-slogan, “orang bijak taat pajak”…atau “hari gini belum bayar pajak ? apa kata dunia ?…”, dll. Lebih bombastis lagi, kita diingatkan untuk taat membayar pajak tepat waktu dan jangan menunggak, karena ini berkaitan dengan kelancaran dan kelanjutan pembangunan Negara, dan bahkan dapat dibawa ke muka hukum jika membangkang…

Padahal sudah kita ketahui bersama (menjadi rahasia umum), siapa sebenarya pengemplang / penunggak pajak yang paling banyak dan besar dinegara kita ini ? Bukankah diantara mereka juga terdapat kelompok atau orang–orang yang bukan tergolong “Rakyat biasa” ? aneh bin ajaibnya lagi, selain tetap bebas bergerak, orang-orang demikian tersebut, ternyata masih merasa nyaman dapat berkiprah dipentas politik / sosial indonesia dengan memposisikan dirinya sebagai orang penting..

Beginilah Negara kita…Apapun bisa terjadi…Negara ajaib….

Kasus terakhir yang membuat apatis masyarakat terhadap Pemerintah dan programnya adalah kasus yang menimpa lembaga perpajakan itu sendiri. Kasus–kasus seperti ini dapat dipastikan akan semakin melimpah, jika terus diusut sampai mendalam dan lebih jauh….

Menyelesaikan kasus pajak yang sedang terjadi ini (kasus Gayus Tambunan, dll)- bukanlah perkara yang ringan. Karena telah diketahui umum bahwa ternyata hampir semua lembaga hukum (entah namanya oknum atau apalah…) punya peran yang “nakal” untuk melindungi pelaku-pelaku kasus korupsi yang terjadi di lembaga perpajakan tersebut.

Simak saja, beberapa perwira kepolisian kita sudah terindikasi (dalam bahasa kepolisian disebut “terperiksa” ) terlibat dalam kasus “Gayus Tambunan” tersebut. Belum lagi Menteri keuangan Sri mulyanil yang langsung memberhentikan banyak petugas perpajakan yang terindikasi / tercurigai membantu mulusnya praktek korupsi yang selama ini berlangsung dilembaga perpajakan (bea dan cukai)…

Jika lembaga hukum sendiri (dan oknum-oknum didalamnya) membantu menutupi kasus korupsi , lalu kemana lagi rakyat mau mencari keadilan untuk mempertanyakan uang mereka yang hilang (melembutkan kata korupsi) yang kata pemerintah uang itu merupakan dana bagi kelanjutan pembangunan nasional (kata iklan pajak nasional versi pemerintah)..?

Uang kita (Baca : rakyat ) masuk kekantong- kantong pribadi aparat-aparat resmi lembaga perpajakan, disisi lain, lembaga hukum tempat mengadu berbagai permasalah ketidak-adilan, juga turut carut marut oleh oknum-oknum para aparat mereka sendiri.

Ibarat kata-kata yang ekstrim, “Mau kemana lagi kita mengadu untuk mendapatkan kemudahan dan kebaikan hidup, jika tuhan tempat kita mengadu saja sudah melakukan keburukan dan mempersulit kehidupan itu sendiri ?”

Kita turunkan ke-level sosial, pertanyaannnya menjadi “mau kemana lagi kita mengadu, jika lembaga hukum sendiri sudah terdegradasi citranya sehingga tidak patut lagi disebut lembaga hukum..?

Lengkaplah nestapa Indonesia….

Lucunya, kita yang acuh tak acuh / sudah “mati rasa” ini masih juga seringkali menertawakan rekan-rekan kita yang berdemo..
kita masih menganggap mereka-mereka “pahlawan jalanan” tersebut
sebagai melakukan pekerjaan yang sia sia ?

Permasalahan yang dihadapi The Beatles adalah permasalahan zamannya menyangkut tingginya pajak. Ada titik temu dengan permasalahan pajak di Indonesia, yaitu bahwa Akhirnya akan mengarah ke satu tema tertentu yaitu Perlunya pembenahan mental aparat pajak dan restrukturisasi lembaga perpajakan itu sendiri….

dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan juga harus dilakukan dilembaga Hukum, karena lembaga tersebut adalah benteng terakhir…
jika benteng ini bobol, maka kasus apapun juga akan menjadi “permainanan” dan semua akan menjadi “permainan”…yang bisa disulap kapanpun mau………

TerimaKasih
Semoga bermanfaat sembari berkrativitas seni yang menggerakkan…

Satu Tanggapan to “TAXMAN : “Anda bekerja bukan untuk siapapun , kecuali bagiku”..”

  1. taxboy said

    wah ulasannya asik nih. mantep!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: