Ilmu itu mencerahkan dan menggerakkan !

hangat, padat, aktual, Universal

Nikmatnya tidur malam bukan untuk kami…

Posted by bukan.apa.apa pada Juli 26, 2010

By : dzulfikar

pedagang nasi goreng

Atas Asma-NYA Yang Maha Sempurna…
Shalawat bagi Nabi-NYA SAAW…

Perlahan-lahan malam merayap menuju kepekatannya dengan hantaran selimut dingin pada derajat yang makin menurun. Udara dingin terasa tak jinak lagi hanya dengan sekedar bertamengkan jaket ataupun kobaran api unggun. Terkadang tetesan air hujan makin mendinginkan suasana malam yang larut disertai gelegar petir yang semakin menambah suasana menjadi sedikit mencekam..

Saat- saat itu, sebagian besar manusiapun larut dalam istirahat pulasnya sembari bercengkrama dengan berbagai mimpinya, setelah seharian melakukan aktivitas rutin yang mereka jalani. Rumah-rumah mereka menjadi tempat berteduh yang nyaman, setidaknya mereka dapat terhindar dari dinginnya angin malam yang menusuk tulang dan tetesan air hujan yang dikhawatirkan menimbulkan penyakit. Didahului bercanda ria bersama keluarga, telah membuat tidur mereka menjadi lebih terasa nikmat dan lepas..

Toko-toko besar dipinggiran jalanpun telah mengakhiri aktivitasnya, setelah mendapatkan omzet yang lumayan banyak dari hasil dagangan mereka hari ini. Hanya ditempat, dengan kesempatan luas untuk bercanda ria diantara sesama mereka yang berada didalam toko, tanpa perlu mendatangi pembeli, mereka (para pedagang tersebut) berhasil meraup laba yang lumayan besar, bahkan masih tersisa lembaran-lembaran uang untuk ditabung demi hari depan. Kini mereka pun berniat melepas penat untuk menikmati lengang dan damainya malam , untuk beristirahat sekaligus mengisi energi mereka kembali demi kerja hari esok.

Hampir ditiap sudut kota manusia telah lelap tertidur, dan sebagian besar toko serta tempat-temapt kerja telah tutup dan menghentikan aktivitas hariannya. Betapa nikmatnya malam bagi mereka yang ketika itu dapat kembali berkumpul bersama keluarga, terhindar dari cuaca buruk, dan menikmati tidur malam dalam lindungan rumah yang hangat dengan beralaskan empuknya kasur dan bantal..

Adakah semua kita bisa demikian dan merasa harus menikmati malam dengan semestinya ???. Diantara kita, ada yang mesti berteman dinginnya malam yang tak pernah berubah menjadi hangat, bersahabat dengan tetesan air hujan yang tak pernah berubah menjadi angin sepoi yang nyaman. Sosok-sosok yang melintas dari satu gang ke gang lainnya, dari satu perumahan menuju perumahan yang lain, dari satu pembeli menuju pembeli yang lain, dengan berjalan kaki dan hanya dilindungi payung seadanya. Mereka-mereka yang tetap tegar memikul beratnya dagangan, yang entah belum tentu habis hingga waktu pagi menjelang.

Mereka mencari peruntungan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari hari, tanpa pernah terbersit pikiran untuk menabung – karena penghasilan yang memang pas-pasan. Mereka mencari peruntungan malam, karena “sempitnya “ lahan disiang hari. Mereka mencari rezeki yang tercecer disela-sela dingin malam, rintik hujan, larut serta sepinya malam, karena rasa tanggung jawab diri untuk tidak menjadi makhluk yang membebani makhluk lain dengan alasan ingin dikasihani…

Sesekali keluar cerita dari mulut mereka, tentang kerinduan kampung halaman yang mereka tinggalkan, tentang adik-adik atau keluarga yang menjadi tanggung jawab mereka, tentang kesabaran dan syukur mereka atas segala kenikmatan Tuhan yang selalu terasa ditengah kerasnya mencari nafkah. Tak lupa mereka selipkan senyuman yang sewajarnya, ditengah –tengah cerita dan layanannya kepada pembeli.

Dinginnya malam, tetesan hujan dan sepinya suasanan malam – andai mereka mau – tentulah lebih pantas untuk dikeluhkan , dibanding kita yang bekerja siang hari, dalam suasana wajar dan saat yang semestinya untuk bekerja. Namun mereka tahan keluhan itu. Sepinya pembeli yang menanti diri mereka, lebih masuk akal untuk mereka keluhkan dibanding kita-kita yang berusaha siang hari disaat banyak para pembeli-pedagang yang beraktivitas. Tentang inipun, mereka tahan untuk tidak mengeluh bahkan berusaha untuk tetap tegar.

Kesabaran, rasa syukur, tanggung jawab terhadap anggota keluarga yang ada dalam penguasaan mereka, ketidak inginan mereka untuk membebani makhluk lain, – ditengah keuntungan dagang mereka yang jika dihitung-hitung tidak seberapa – mengingatkan kita tentang sifat lemah kita, – yang boleh jadi mendapat rezeki lebih baik dari pada mereka -, namun kadang melupakan rasa sabar dan syukur. Bahkan dalam kondisi-kondisi tertentu, kita sering mengutamakan diri pribadi dibanding keluarga, dan ada kalanya menghinakan diri dengan mengharap belas kasihan yang tidak pada tempatnya.

Mungkin saja kita tidak terlalu menikmati masakan mereka, atau nikmatnya masakan mereka telah terkalahkan oleh kemenangan empati kita tentang sosok-sosok kehidupan masyarakat kecil disekitar kita, namun kita – setidaknya- mendapatkan secuil kenikmatan batin karena anugerah-NYA, dgn perantaraan kaum-kaum lemah secara ekonomi tersebut, yang meghantarkan kita untuk lebih memahami arti hidup diri kita sendiri..

Semoga masa depanmu cerah wahai kaum pekerja keras…

(persembahan untuk beberapa pedagang nasi goreng yang tiap larut malam melewati depan rumah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: