Ilmu itu mencerahkan dan menggerakkan !

hangat, padat, aktual, Universal

HARI BUMI : Sekelumit perspektif filosofis Mulla Sadra…

Posted by bukan.apa.apa pada Juli 26, 2010

By : dzulfikar

Hari Bumi : 22 April

Atas Asma-NYA Yang Maha Sempurna
Shalawat bagi Nabi-NYA SAAW…

Hari Bumi (22 April) merupakan bentuk kepedulian masyarakat dunia untuk menjaga eksistensi bumi (alam) bagi kelangsungan hidup manusia dan alam itu sendiri. Karena Manusia adalah poros kehidupan dan penggerak kehidupan (dalam arti terbatas tidak melebihi wilayah Tuhan), maka segala yang terjadi terhadap bumi dan alam, merupakan lukisan jejak-jejak manusia dalam memperlakukan alam dan bumi.

Sebagian filosof dan kaum intelektual yang berkecenderungan Materialis dan evolusionis historis, menganggap sesuatu diluar diri manusia adalah “dia”, Sehingga alam dan Bumi yang merupakan tempat manusia menyandarkan hidupnya, dianggap ‘dia’, dalam artian sesuatu yang tidak merupakan bagian dari “kita” manusia. Dalam konteks ini, alam dan bumi diperlakukan tidak lebih sebagai sesuatu yang ada diluar diri manusia, dan semata-mata sebagai sarana bagi pemuas kebutuhan manusia, tanpa harus peduli bagaimana dampak kondisi ekologisnya.

Atas dasar ini, tidaklah terlalu mengherankan jika perlakuan manusia terhadap alam dan bumi menjadi sangat exploratif dan sewenang-wenang. Manusia memperlakukan alam dan bumi sebagai sesuatu yang tak berjiwa, bahkan terkadang dengan menyakiti alam itu sendiri, dengan alasan berbagai kepentingan manusia yang menidakkan kepentingan dan keseimbangan alam. Manusia menganggap dirinya sebagai subjeck, sedang alam dianggap object semata. Antara manusia dan alam tidak terjadi integritas dan homogenitas jiwa atau batin, sehingga tidak terdapat “sense” bahwa antara alam/bumi dan manusia adalah “kita”. Jika alam/ bumi telah menjadi “kita”, tentu saja merusak dan mengekplorasi alam/bumi secara habis-habisan dan tak terkendali akan dianggap sebagai merusak manusia itu sendiri. Bukankah ketika manusia sakit gigi, seluruh tubuh akan merasa terganggu/tidak enak dan banyak aktivitas menjadi tertunda ?

Berbeda dengan kebanyakan para filosof Barat dalam memandang Alam (bumi termasuk didalamnya), Mulla Sadra – seorang filsuf muslim kebanggaan Dunia – punya pendapat khas bahwa antara alam dan Tuhan sebenarnya merupakan sebuah realitas yang saling bersambung yang hanya dibedakan oleh derajat eksistensinya saja. Karena hanya ada sebuah realitas, maka tentu saja tidak ada aku, dia, dan kamu. Dalam konsep Mulla Sadra, rentangan alam (mulai dari alam ketuhanan hingga kealam mineral material) merupakan konsep tunggal realita kesatuan alam.

Bagi Mulla Sadra benda-benda sekitar kita di alam bukemseta ini bukanlah tanpa eksistensi atau hanya sekedar ilusi saja.

Pandangan Sadra, lebih mendekatkan kita kepada konsep bahwa antara alam/bumi dan manusia (juga dengan Tuhan), terdapat sebuah eksistensi realitas ke “ADA’ an kita yang tunggal. Apa yang membedakan manusia, alam dan tuhan terlihat seakan-akan sebagai entitas-entitas yang tampak berbeda, tidak lain dan tidak bukan hanyalah faktor esensi dan modus mewujud. Ibarat Air, apakah betul dia itu cair ? bukankah suatu saat dia dapat menjadi padat dan menjadi gas ? itu artinya cair , padat dan gas, hanyalah sekedar modus mewujud. Hakikat / inti air bukanlah seperti itu. Cair, padat dan Gas, bukanlah eksisitensi, namun esensi. Esensi seringkali mengalami perubahan, namun eksistensi selalu tetap dan eksis ada, sekalipun maujud-maujud material sesuatu tidak tampak.

Rentangan eksistensi antara Tuhan dan benda-banda material / alam semesta dan entitas-entitas yang berada diantaranya, ibarat cahaya matahari yang berdegradasi (intensitas cahayanya) dimulai dari yang terdekat dengan sumber cahaya matahari hingga pada posisi terjauh yang bisa dicapai oleh perjalanan cahaya itu sendiri. Efek panas cahaya matahari akan berbeda tergantung dari posisi dan jarak yang dilaluinya, namun satu kata kita tetap sepakat bahwa itu adalah eksistensi cahaya matahari itu sendiri. Hubungan kita (manusia, alam/bumi dan Tuhan ) adalah hubungan eksistensi, bukan hubungan esensi, namun dengan segala rentangan eksisitensi yang memiliki derajat / level yang tidak sama, tergantung kualitasnya masing-masing.

Karena sumber eksistensi adalah cahaya itu sendiri (Tuhan), maka manusia dan alam adalah merupakan pencaran eksistensi Tuhan itu juga, dengan kapasitas yang sesuai object yang bersangkutan dan melalui modus mewujud (esensi) yang berbeda. Ini tentu saja sangat berbeda dengan pantheisme ala Ibm “arabi .

Singkat kata, kita bukanlah “DIA, namun kita juga Sekaligus “DIA”. “DIA” bukanlah kita, namun “DIA” juga sekaligus kita (makhluk), dalam konteks derajat eksistensi.

Memperlakukan alam dengan sewenang wenang, berarti mengambil sebuah posisi menentang ke”kita”an kita sebuah sebuah eksisitensi, dan menentang “DIA” sebagai sumber eksistensi kita.

Memperlakukan alam / bumi dengan hormat dan Baik, adalah rangkaian proses mewujud kan ke ”KITA” an dan ke”DIA”an sekaligus, yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan alam semesta….

Akhirnya, mari selamatkan bumi dengan keyakinan bahwa perlakuan baik terhadap bumi / alam merupakan perlakuan baik terhadap “kita” juga, dan selanjutnya akan mempertebal manifestasi derajat cahaya/eksistensi “DIA” (dalam artian derajat eksistensi)….

Selamat hari bumi rekan-rekan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: