Ilmu itu mencerahkan dan menggerakkan !

hangat, padat, aktual, Universal

Fathimah “Kartini” Kita : Refleksi Perjalanan Wanita…

Posted by bukan.apa.apa pada Juli 26, 2010

By : dzulfikar

Fathimah "kartini" kita..

Atas Asma-NYA Yang Maha Sempurna
Shalawat bagi Nabi-NYA SAAW…

Terlepas dari kontroversi akademis dan ilmiah seputar kepantasan Kartini dijadikan simbol kemajuan wanita Indoensia, Tak dapat dipungkiri bahwa semangat hari Kartini (21 April) setidaknya membawa pesan bagi Wanita – khususnya wanita Indonesia – agar terus maju mengembangkan segenap potensi kemanusiaan dan kewanitaannya sejajar dengan kaum pria untuk berkiprah dlm pembangunan bangsa dan dunia…

Kita pantas bersyukur, dalam banyak sisi – kaum wanita dapat semakin dibanggakan, karena banyak prestasi yang sedikit demi sedikit telah menempatkan wanita pada posisi yang semakin terhormat…

Namun, banyak juga muncul fenomena – fenomena kaum wanita yang membuat kita miris dan bersedih hati, entah itu namanya “ketertindasan”, “keterbelakangan” , “keterpaksaan”, atau yang katanya “kemajuan” …..

Secara kultural, di negara kita memang masih tampak kecenderungan dominasi pola patriarkial, sehingga potensi – potensi terpendam yang dimiliki wanita terpaksa harus tetap terpendam atas nama “Penghormatan” terhadap kaum Lelaki. Wanita yang cerdas dan dapat mengaktualkan potensinya, “dikhawatirkan” akan mengeser peran “kepemimpinan” laki-laki….

Disamping kultur yg terkadang dianggap sebagai “penghalang “ jalan bagi kemajuan wanita, faktor lain yang berperan adalah pandangan dasar/konsepsi filosofis tentang manusia dan hidup. Cara pandang filosofis yang tidak sesuai karakter dasar manusia dan hidup dicurigai dapat “melencengkan“ fitrah kewanitaan dan arti/makna kemajuan wanita…

Setidaknya, 3 hal berikut berpengaruh bagi melencengnya pandangan kaum wanita tentang makna kemajuan dan pola bertindak dlm hidup :

A.) Pengaruh Paham eksistesialisme yang berlatar belakang budaya asing (khususnya Barat)….
Pandangan ini meletakkan ego/kemauan diri sebagai dasar bagaimana manusia itu seharusnya bertindak… menurut pandangan ini, manusia akan disebut eksis, manakala manusia melakukan apa yang dia maui, dan hanya bersumber dari keinginan dia sendiri. Ketika sumber gerakan / motivasi manusia adalah sesuatu diluar diri manusia (misalnya agama, Tuhan, moralitas, paksaan/perintah, dll), saat itulah manusia menjadi tidak eksis. Pandangan ini menjadi dasar yang kuat bagi banyak orang dan kaum wanita (khususnya di Barat, dan tanpa terasa pengaruhnya menjalar ke banyak Negara lain/termasuk Indoensia), untuk bertindak hanya semata-mata dengan motif didalam dirinya, dengan mengabaikan motif diluar dirinya. Ketika motif itu muncul dan aktual secara tindakan, maka pada ketika yang sama seseorang disebut eksis secara filosofis dan riil. Ketika dia bertindak atas dasar diluar dirinya, itu sama saja dia diperintah sesuatu yang asing, dan artinya dia tidak eksis….
Banyak Orang-orang dengan keterbatasan pengetahuan (termasuk kaum wanita) dan sikap tergesa-gesa menganggap paham ini seakan-akan sebagai pembebas mereka dari keterkungkungan. Mereka merasa bebas dapat berkreasi menjadi apapun juga yang mereka mau, sepanjang kemauan mereka untuk eksis itu bersumber dari eksisitensi diri mereka sendiri.
Sartre dianggap tokoh aliran eksistensialisme yang memiliki pengaruh luar biasa dalam merubah cara pandang masyarakat eropa, dan cara pandang seorang wanita tentang sosok kewanitaannya untuk dianggap “menjadi” eksis.

B.) Pandangan tentang feminimisme dan emansipasi…..
Pandangan ini meniscayakan kehendak persamana hak antara laki-laki dan perempuan. Dan sekali lagi, awal mulanya pandangan inipun tumbuh di dunia Barat yang tentu saja punya latar belakang tersendiri. Secara sepintas pandangan ini dapat menarik hati para wanita untuk bergabung didalamnya. Namun, pada kenyataannya, pandangan ini juga yang membawa wanita tersudut pada jurang yang lain yang sama buruknya dengan sikap penolakan terhadap hak-hak wanita…
Gelombang dahsyat gerakan feminimisme telah menyeret pola hubungan pria-wanita pada tataran pengidentikkan hak wanita dan laki-laki-tidak hanya dalam wilayah konsep-, bahkan wanitapun menuntut pengidentikkan kewilayah praktis…
Bagi mereka (para wanita yg terpengaruh pandangan ini), kesamaan/persamaan hak tidaklah cukup, namun hak wanita dan pria harus juga identik….

C.) Iklim globalisme dan konsumerisme dunia…..
Globalisme dan gelombang gaya hidup modern telah merubah image banyak masyarakat dunia dan wanitanya tentang kepribadian dan nilai hidup. Lebih dalam lagi, faktor ini pun akhirnya bisa merubah karakter dan watak seseorang wanita dalam memandang kehidupan dan keberhasilan hidup. Tidak sedikit wanita yang tergiur arus zaman, sehingga melakukan peran-peran yang “menantang” dan melawan kodrat kewanitaan mereka sendiri. Semua dilakukan atas nama “kemajuan zaman” dan “kesuksesan hidup” versi mereka…..

Factor A,B,dan C, terasa atau tidak, merupakan faktor yang didalamnya ada balutan ideologis, misi, dan peradaban, yang terus digelontorkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan mengatasnamakan Kemajuan zaman dan hak-hak wanita. Padahal mereka secara kontinyu tengah menggiring wanita atau suatu bangsa kearah penguasaan mereka, sehingga akhirnya akan terbentuklah model peradaban versi mereka…

Boleh jadi para wanita tidak menyadari tentang paham dan mazhab pemikiran seperti diatas. Namun dalam ucapan dan tindakan, kita bisa menduga konsep hidup apa yang telah merasuk kedalam pikiran seorang wanita, sehubungan dengan bagaimana dia memandang kewanitaannya…

Diluar faktor A, B dan C yg tersebut diatas, yang lebih penting lagi adalah, komitmen kaum wanita itu sendiri agar memiliki keinginan yang kuat untuk maju…Bagaimana kita mengharapkan wanita akan maju serta menyalahkan pola patriarkial, jika kaum wanitanya sendiri hanya berkeinginan semata-mata menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak, memasak didapur atau paling tinggi sekedar ketua PKK di kampung ?.. Kita sepakat bahwa semua keinginan tersebut adalah mulia dan baik, namun tidak tepat juga menyalahkan pria jika wanita dianggap tidak layak maju karena keinginan wanita semata-mata hanya sebatas hal-hal demikian….

Zaman tidak pernah lepas dari wanita-wanita yang menjadi tokoh penggerak dan panutan sejarah…Fathimah, buah hati Nabi SAAW – yang dijuluki Nabi SAAW sebagai ummu abiha /ibu dari bapaknya – merupakan tauladan yang hidupnya sarat dengan kisah-kisah inspiratif bagi wanita…Fathimah yang memiliki kelembutan dan kasih sayang luar biasa, pada ketika yang lain dapat menjadi pejuang tangguh dan berani dihadapan para penyeleweng ajaran ayahnya dan suaminya-Imam ‘Ali KWH-…

Bolehlah para wanita menyimak sejarah kehidupan Kartini untuk mengambil beberapa spiritnya yang baik…
Namun dengan menyimak dan mempelajari kehidupan Fathimah, akan lebih terasa getar abadi seorang “wanita” dengan kemuliaaan dan kematangan ruhani, sosial, kepribadian dan intelektualitas………………………..

…..
dan tentunya jauh melebihi sosok Kartini…..

Untuk kaum wanita, selamat menuju kearah kemajuan..…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: