Ilmu itu mencerahkan dan menggerakkan !

hangat, padat, aktual, Universal

Bola piala dunia 2010 dan politisasi “bola” rakyat..

Posted by bukan.apa.apa pada Juli 26, 2010

By : dzulfikar
piala dunia dan politik "piala dunia"
Atas Asma-NYA Yang Maha Sempurna…
Shalawat bagi Nabi-NYA SAAW…

Piala dunia 2010 yang merupakan simbol pretasi terpuncak olahraga sepakbola sedang berlangsung di Afrika Selatan dengan diikuti oleh tim-tim dari semua benua yang berhasil lolos menuju ajang pertarungan bergengsi tersebut. Seluruh penduduk dunia memberikan perhatian yang besar untuk dapat menikmati pertarungan demi pertarungan antar tim yang berlaga di wilayah negara benua afrika tersebut. Bentuk perhatian dunia yang luar biasa, yang boleh jadi mengalahkan bentuk perhatian dunia terhadap kekejian zionist Israel terhadap bangsa Palestina.

Masyarakat indonesia pun tidak ketinggalan untuk menyaksikan tim tim kesayangan mereka berlaga di piala dunia dengan beragam caranya. Di tiap sudut tanah air, ada saja masyarakat yang mengadakan aksi menonton bareng piala dunia. Sebuah hiburan besar yang bisa menghilangkan sementara ingatan akan duka derita negara kita dengan dengan segenap problemanya. Ramainya Kasus “video panas “ yang sedang menimpa beberapa artis kita, tampaknya tidak bisa mengimbangi gegap gempitanya berita tentang piala dunia yang sedang berlangsung dinegara peraih nobel perdamaian – Nelson Mandela – tersebut. Apalagi kasus – kasus politik seperti kasus KPK (Bibit-Chandra), kasus dana aspirasi 15 milyar yang digulirkan partai Golkar, kasus century, dll, yang bobot “hiburan/entertainment” nya lebih ringan dibanding kasus heboh video para artis tersebut, terasa semakin hilang, ibarat suara sayup sayup yang makin lama makin lenyap.

Diajang piala dunia 2010, Sebuah bola bundar diperebutkan oleh para pemain dengan mengerahkan segala kemampuan mereka untuk tetap dapat menguasai sang bola. Jika satu pihak menguasai bola,maka pihak lawannya akan berusaha merebut bola tersebut untuk berganti agar mereka yang menguasainya. Bahkan segala cara yang mungkin akan mereka lakukan, walau kartu merah sekalipun harus mereka terima. Jika satu pihak mengarahkan dan menggiring bola tersebut untuk mengalahkan sang lawan, maka sang lawan pun berusaha mati-matian menahan gerak laju bola agar tidak sampai pada tujuannya (menembus gawang mereka). Mereka membuat pertahanan sekokoh mungkin demi menggagalkan tujuan tim pihak lain menyarangkan bola ke gawang mereka (yang merupakan tujuan akhir dari menggiring bola). Bola adalah penentu kemenangan satu tim terhadap tim lainnya. Sehebat apapun para pemain bola, tanpa ada bola maka tidak akan ada gol, dan itu artinya tak ada yang kalah ataupun menang. Bahkan pertandingan bolapun menjadi tidak ada jika tak ada bola. Bola adalah alat penentu kemenangan, yang sekaligus tak berdaya untuk menolak para penendang mereka (pemain). Dia disakiti sekaligus diperlukan, tanpa ada kemampuan untuk menolak menjadi object yang tersakiti.

Permainan pun usai, masing-masing tim yang tadi berlaga telah mengetahui hasil akhirnya, dan Sang bola pun selesai melaksanakan “tugas” nya. Karena bukan lagi dilapangan, maka “kehidupan” sang bola tidak lagi dipedulikan dan diperhatikan. Fungsinya hanya terbatas dilapangan – “disakiti” dan dibutuhkan -, lalu setelah suatu pertandingan usai, sang bola kembali diabaikan dan tidak dilirik.

Kini, Lihatlah kebanyakan politisi dan orang orang yang “katanya tokoh” bangsa kita saat ini. Saat pemilu, rakyat digiring untuk menggunakan hak politik mereka dengan mencoblos partai/afiliasi politik yang bisa memenangkan “para tokoh tersebut” dalam pemilihan umum/pemilukada. Rakyat diseret –seret dengan berbagai trik (dan jika perlu tipudaya) untuk memilih afiliasi politik para tokoh-tokoh tersebut. Tak bedanya dengan dilapangan bola yang sering terjadi pelanggaran, maka demi menggriring rakyat mengikuti tujuan mereka, para “tokoh-tokoh umat dan politik” tak segan-segan menggunakan model pelanggaran seperti kampanye hitam (Black campaign), fitnah, pembunuhan karakter, dlsb nya. Lebih parah lagi – dengan bertopengkan agama -, para tokoh-tokoh yang tersebut diatas – yang tidak memiliki otoritas mendalam dalam masalah-masalah keagamaan -, terkadang berani berlagak bak seorang da’i yang pandai berceramah, untuk mencomot ayat-ayat kitab suci sesuai penafsiran politik mereka.

Dalam kasus-kasus poltik tertentu, terkadang karena kepentingan politik pihak-pihak yang berkepentingan (dari beragam levelnya), para tokoh-tokoh tersebut seringkali memanfaatkan rakyat dan mengatas namakan rakyat untuk agenda tersembunyi mereka. Rakyat digiring untuk menghantam lawan-lawan yang tidak sejalan dengan pendapat / kepentingan politik mereka. Rakyat dijadikan senjata terdepan untuk menyerang kepentingan pihak lain, dan rakyat pun menjadi bulan-bulanan. Jika tujuan dan agenda mereka telah tercapai, melalui “bola “ rakyat tadi, maka mereka pun merasa menang, dan “bola” rakyat pun mereka lupakan. Atas nama rakyat, dengan membodohi rakyat dan memanfaaatkan rakyat, sekaligus menyakiti rakyat, “mereka-mereka yang merasa tokoh umat dan politik” tadi, melakukan petualangan politik mereka dengan beragam agenda “rahasia” yang tidak tampak dipermukaan.

Setelah pesta politik usai, setelah sebuah agenda politik berhasil “diakali”, setelah tujuan dicapai (entah baik atau buruk), maka “dagelan” sebuah ajang politik dianggap selesai untuk satu drama, dan “bola” rakyatpun kembali “statis dan diam” dalam urusan keseharian mereka. Kapan “bola” rakyat ini akan bergulir dan dimainkan kembali ? Jawabnya, jika ada pesta politik atau drama politik lain, dimana rakyat “seakan-akan” kembali dibutuhkan untuk alasan menyemarakkan iklim demokrasi dan menghargai hak politik rakyat.

Apakah posisi kita yang terlalu sering menjadi “bola dan robot” politik lalu membuat kita apatis dan makin tak peduli dengan kehidupan perpolitikan ? tentu jawabnya adalah tidak, dan jangan sampai terjadi. Jika kita semakin acuh, tentu kondisi akan makin memburuk dan bukan makin baik. Berjuang saja terkadang belum pasti menunjukkan perbaikan, apalagi jika kita tak peduli sama sekali terhadap kehidupan sosial dan politik bangsa ini. Biarlah kita tetap menjadi “bola”, karena dengan adanya bola maka akan ada pertandingan dan ada kompetisi untuk menentukan sang pemenang dalam pertarungan “sepakbola perpolitikan” bangsa. Yang kita perjuangkan adalah bagaimana agar para pemain “bola” rakyat ini adalah para tokoh-tokoh yang jujur, bersih, dan berpikir lintas golongan untuk kebaikan masyarakat dan bangsa ini.

Selamat menikmati ajang piala dunia 2010 rekan-rekan….semoga ajang ini memicu dunia persepakbolaan kita untuk menjadi lebih baik…

Semoga kita juga makin sadar tentang pentingnya memunculkan tokoh-tokoh negeri ini yang bersih, jujur dan berfikir non sektarian, agar kita sebagai rakyat turut senang walaupun hanya berperan sebagai “bola-bola “politik saja . Bukankah merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kita jika dipimpin oleh mereka mereka yang bersih, jujur dan berwibawa dihadapan lawan dan kawan ? Ibarat umat Islam yang bangga memiliki dan dipimpin Nabi Muhammad SAAW , Imam ‘Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fathimah az-Zahra, walau kualitas diri kita jauh dan tak mungkin bisa dibandingkan dengan kemuliaan mereka . Kita bangga karena kita punya panutan dan pimpinan sosok-sosok terbaik sepanjang sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: