Ilmu itu mencerahkan dan menggerakkan !

hangat, padat, aktual, Universal

Skenario Perang israel : takut karena ulah sendiri

Ditulis oleh dzulfikar di/pada Juli 6, 2008

By  :  dzulfikar

Harian Israel “Haaretz” melaporkan dalam websitenya hari kamis bahwa para komandan angkatan udara Israel dari tahun 1996 – 2000 mendiskusikan beberapa jenis skenario perang masa depan.

Berapa banyak misil yang akan ditembakkan dari Iran, Suriah, dan Libanon ke wilayah Israel dalam perang masa depan ? pertanyaan ini, dan juga skenario perang, adalah pokok pembicaraan awal minggu ini oleh mayor Jenderal Israel, EitaN bEN eLIAHU.

dia mensurvey perubahan-perubahan dalam doktrin keamanan nasional Israel ditengah-tengah perubahan cara berperang, teknologi dan ancaman oleh negara-negara anti Israel.

Eitan Ben Eliahu memulai pembicaraannya dengan mendefinisikan doktrin keamanan nasional dan perubahan-perubahan yang telah dilakukan/dialami. Semenjak diformulasikan di awal tahun 1950-an, konsep militer israel adalah sebagai berikut :

- mengambil inisiatif perang ( serangan pencegahan). Tetapi, jika ini tidakmungkin maka :

- melakukan serangan pendahuluan (preemptive srike) untuk menghancurkan mesin perang musuh. tetapi jika perang pecah, tentara pendudukan Israel harus melakukan operasi militer yang harus mendudukkan Israel unggul dalam penguasaan udara.

- memasuki daerah musuh untuk menuju garis batas dan mengalahkan musuh.

doktrin ini menjelaskan sebuah skenario dimana Israel telah melakukannya dalam perang di 2 atau 3 front (Mesir, suriah, dan Yordania)

Dua pelajaran besar

menurut doktrin keamanan israel, Proses mengalahkan musuh didasarkan pada sistem senjata yang memungkinkan kejutan, pergerakan dan inisiatif di darat. Di udara, hal tersebut didasarkan pada senjata yang memungkinkan untuk menyerang dan menghancurkan lapangan udara dan memenangkan pertempuran udara, dan pada pengembangan persenjataan yang tepat yang dapat menghancurkan misil darat ke udara.

tetapi dari akhir tahun 1980-an, dan khususnya setelah perang teluk 1991, dimana Irak meluncurkan 40 rudal scud, israel menghadapi beberapa tantangan baru :

- Penyerangan terhadap wilayah israel langsung

- waktu peringatan yang pendek (saat mulai perang dan adanya pertempuran)

- sebuah perang yang panjang

- senjata-senjata non-konvensional (kimia dan nuklir)

beberapa dari ancaman-ancaman ini menjadi lebih serius selama perang Libanon ke-2 dan di jalur Gaza. sebagai hasilnya, Israel dipaksa untuk meningkatkan anggaran keamanan negaranya dari $ 35 milyar menjadi $ 50 milyar, dan memperbaharui doktrin pertahanan nasinalnya bagi persiapan skenario perang melawan Iran, Suriah, Libanon , dan teror.

Untuk menilai intensitas skenario-skenario ini, Ben Eliahu menghadirkan figur-figur dari perang Libanon ke-2. Persediaan Misil Hizbullah lebih kurang 14.000 misil. Kira-kira 4200 misil telah diluncurkan, termasuk 200 misil jarak menengah. IAF (tentara ISrael) telah melakukan serangan sebanyak 11.870 kali selama perang 34 hari tersebut (rata-rata sehari = 340 penyerangan).

Dalam estimasinya, Israel harus mempersiapkan perang masa depan dalam kondisi kondisi berikut :

- satu hingga tiga front

- menghancurkan musuh di medan perang

- melibatkan front palestina

- membalas / menghukum dengan senjata misil jarak jauh (terhadap Iran)

Apa tujuan Israel dalam perang masa depan ?

dengan didasarkan pada hasil perang teluk, Ben eliahu memperkirakan bahwa dalam perang masa depan, Suriah dan Iran kemungkinan akan meluncurkan antara 250-300 misil jarak jauh ke wilayah Israel (Misil Shihab dan Scud) dan 5000 misil jarak pendek (khususnya dari Libanon).

Untuk menahan sebuah misil jarak jauh, kira-kira dibutuhkan dua misil intercepting dan antara 500 hingga 700 misil secara keseluruhan. lagi pula, israel harus memiliki 200 misil intercepting sebagai cadangan. Untuk menghancurkan misil jarak pendek, israel memerlukan kekuatan perang di darat.

Israel harus menyiapkan perang yang berlanjut hingga 20 hari. melawan Suriah, Israel harus unggul di udara dan memulai serangan darat untuk tujuan-tujuan strategis, menyerang misil dan tempat peluncurannya, dan menyerang target-target strategis.

Berhadapan dengan Libanon, Israel telah memiliki keunggulan Udara, dan karena itu harus fokus pada penyerang udara melawan misil jarak menengah dan melakukan serangan darat melawan misil jarak pendek.

Di wilayah gaza, ancaman roket al-Qassam dan senjata mortar, menurut analisis ini, “terbatas, melelahkan dan tidak langsung,” dan respon harus meliputi pemberian perlindungna bagi rakyat sipil, pengembangan sistem peringatan dan alarm yang efisien-yang dapat mengidentifikasi misil yang diluncurkan- dan melakukan perang darat ofensif terhadap gerilyawan Palestina. Lebih dari semua itu,Israel harus memberikan prioritas yang tinggi bagi metode pencegahan ancaman serangan senjata kimia dan nuklir. (http://www.almanar.com.lb)

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>