Kisah Syuhada Palestina dan persaudaraan dengan hizbullah
Ditulis oleh dzulfikar di/pada April 12, 2008
Diterjemahkan dan disarikan By : dzulfikar


Dibanding ringtone Britney Spears, Hand Phone Shehadeh Shehadeh (SS) justru membunyikan rekaman suara pemimpin hizbullah, sayyid hassan nasrallah. ” seluruh keluarga saya telah masuk Hizbullah,” Katanya. Minggu kemarin,” Operasi keamanan Israel dikota West bank telah membunuh ayahnya, mohammad Shehadeh, seorang pemimpin senior Jihad Islam.
“Ayah saya memutuskan untuk menjadi muslim Shi’a setelah dideportasi ke Marj Al-Juhur, Libanon ditahun 1992″ oleh pemerintah israel. “Disana beliau berjumpa dengan banyak kalangan SHi’a dan melihat bahwa penderitaan muslim Shi’a adalah demikian besar seperti halnya penderitaan yang dialami bangsa palestina.” menurut Shehadeh (yang berusia 19 tahun), ayahnya sangat perhatian dengan cara penjelasan Shi’a tentang Al-Qur’an.” Dia menyamakan aksi ayahnya laksana pengikut Imam Hussein, yang diyakini sebagai pengikut sejati nabi Muhammad SAAW.
“Ayah saya memutuskan untuk tidak menyerah dan memilih menjadi syuhada, seperti Imam Hussein yang berperang di karbala,” katanya. dalam perang di karbala, Hussein bin Ali, seorang cucu nabi Muhammad SAAW dan Imam Muslim Shi’a, dibunuh oleh Yazid, seorang khalifah bani Umayyah.
Duduk di dalam rumahnya di Wilayah bethlehem, pria muda tersebut berkumpul bersama beberapa temannya. mereka semua disana untuk berkabung atas syahidnya ayah Shehadeh.
Pria tersebut secara blak-blakan berbicara tentang kejinya Israel. “Orang yahudi telah membunuh banyak nabi,” Dia nyatakan berulang ulang dalam wawancaranya dengan media Haaretz. Beberapa yahudi adalah baik dan ayah saya menghargai mereka, seperti Neturei Karta,” katanya menghubungkan dengan sebuah sekte ultra-ortodox yahudi yang anti-zionist. “tetapi kebanyakan yahudi adalah Musuh.” bahkan dalam pertandingan sepakbolapun, kalian meneriakkan bahwa kalian ingin perang,” katanya menambahkan.
Anak muda tersebut mengatakan bahwa ayahnya bukanlah anggota Hizbullah, tetapi memihak kepada oraganisasi tersebut. Dia tidak menolak bahwa keluarganya menerima telpon dari kantor hassan nasrallah dimana Hizbullah menawarkan bantuan keuangan.
Seorang teman Shehadeh mengatakan bahwa banyak pemimpin-pemimpin Palestina sekarang yang bergabung dalam barisan Hizbullah. Dia menyebutkan nama Issa Batat, satu dari pemimpin senior Jihad Islam di wilayah bethlehem, yang pernah mendekam dipenjara Israel ; dan Mohammad Kawamleh , seorang anggota Jihad Islam yang masih dicari pihak keamanan Israel.
Kembali ke implikasi politik pasca pembunuhan Ayahnya, Shehadeh mengatakan : ” Apa yang telah kalian capai dengan membunuh ayahku ?
Mohammad Shehadeh, 45 tahun, adalah bekas anggota fatah yang belakangan akhirnya menjadi pejabat senior di brigade Al-Quds, sayap militer dari Jihad Islam. Dia terbunuh bersama dengan Imad al-kamel, Issa marzouk dan Ahmad al_balboul, juga dari bethlehem. Mereka dijebak dipinggiran kota oleh tentara Israel yang berpakaian sipil dan mengendarai kendaraan non militer.
“Kalian telah membunuh satu Mohammed Shehadeh. tetapi sebagaimana mantan pemimpin Hizbullah -Abbas Mussawi - pernah mengatakan bahwa Tiap saat tetesan darah dari tubuh seorang Syahid jatuh kebumi, Allah mengetahui bahwa bagaimana menggunakan tetesan darah tersebut. sekarang, semua yang ada di bethlehem akan menjadi Mohammad Shehadeh.”
Diluar rumah tangga Shehadeh, pessimisme, frustasi dan keputus- asaan ada dimana mana. Orang-orang sudah menyetop harapan mereka untuk mendapat hasil terbaik dari proses perdamaian yang digagas oleh Amerika, israel dan Otorita palestina (pimpinan presiden mahmoud Abbas) di Annapolis tahun kemarin. mereka melihat bahwa proses tersebut telah mati dengan cepat, dan bahkan membuat cara lain bagi babak selanjutnya kekerasan israel.
Pemakaman Shehadeh, yang bersanding bersama tiga rekannya yang lain, merupakan pemakaman yang terbesar yang terjadi akhir-akhir ini. Pihak keamanan palestina memperkirakan bahwa kira-kira 25.000 orang menghadiri pemakaman tersebut.
“Saya dan teman-teman, akan melanjutkan intifada,” kata Abu Dib, seorang yang menjadi anggota pasukan keamanan Palestina, dan mengatakan bahwa dirinya di cari Israel karena perannya di dalam Intifada. ” kami sudah terlalu lelah. tetapi anak-anak ini, mereka baru berusia 1o tahun ketika intifada meletus. sekaranag mereka telah berusia 18 tahun, dan mereka tidak tahu apa-apa kecuali perang dan kekerasan dengan israel.”
Abu Dib berbicara tentang sebuah generasi baru yang tumbuh di dalam wilayah penuh gejolak dan akan menjadi lebih keras dan radikal. “Mereka akan menjadi pelanjut dan pemimpin konfrontasi selanjutnya,” katanya memprediksi.(http://english.hizbollah.org/essaydetails.php?eid=3061&cid=215)












Mei 29, 2008 pada 1:43 pm
assalamu’alaikum wr.wb
salam perjuangan
aku salut atas perjuangan para mujahid di Lebanon maupun Palestina.Semoga Allah selalu beserta kita dan para Imam yang suci menjadi wasilah kita karena beliaulah sebaik-baik wasilah.
Allahu akbar.
Darah kalian tidak akan sia-sia sebagaimana darah Imam Husain di padang Karbala.Semua hari adalah Asyuro dan setiap bumi adalah Karbala.
kami yang di Indonesia hanya berdoa semoga Imam Zaman segera Maujud dan menumpas para dholimin.
wassalam