Cerita Kunjungan Anggota DPR Temui Sayyid Hasan Nasrullah (1)
Ditulis oleh dzulfikar di/pada Maret 17, 2008
Saya memang sudah lama berkeinginan bertemu dengan sang Sayyid mulia itu. Saya ingin berjumpa, berdiskusi, dan bahkan menyentuh manusia yang saya kagumi ini. Manusia yang telah mewujudkan impian menjadi kenyataan, keputusasaan menjadi harapan, rendah diri menjadi kebanggaan, dan diatas itu semua melakukan semua ini bukan untuk kepentingan pribadinya tapi demi ridha Allah semata.
Ketika kesempatan terbuka dengan adanya delegasi Komisi 1 DPR ke Syria yang kemudian dirangkum sekaligus ke Lebanon dan Jordan, saya jauh-jauh hari merancang upaya pertemuan itu secara rahasia, diluar agenda resmi delegasi. Mengapa? Karena saya diberitahu oleh kontak saya bahwa bila rencana pertemuan itu bocor sebelum bertemu, maka bisa fatal dan batal sama sekali. Seperti kita ketahui Sayyed Hasan Nasrullah (SHN) adalah orang yang paling diincar oleh Israel (dan Amerika) saat ini. Setelah perang Maret 2006 yang meluluhkan fisik dan reputasi Israel itu, dia mengendalikan gerakannya, Hizbullah, dari tempat persembunyian. Pidato dalam rapat-rapat akbar yang dihadiri oleh ratusan ribu pendukungnya, disampaikannya lewat gambar video. Bukan karena takut mati, karena baginya mati seperti syahidnya putranya sendiri Sayyed Hadi dalam perang itu bukan musibah tapi merupakan karunia dimatanya. Kelangsungan kepemimpinannya yang masih diperlukan bagi melanjutkan perjuangan gerakannyalah yang memaksanya dalam kondisi sekarang. Pesawat tempur canggih Israel beserta perangkat senjata, satelit dan alat digital mutakhir senantiasa siaga memonitor setiap gerakan yang bisa membawa mereka ke tempat persembunyian SHN. Siap untuk menembakkan peluru kendali atau menjatuhkan bom dari atas. Pengantar saya, pimpinan hubungan internasional Hizbullah, bercerita bahwa suatu saat perjalanan Duta Besar Rusia ke tempat SHN terpaksa dibatalkan di tengah jalan karena pesawat Israel sudah berada melayang-layang di atas kendaraan yang membawanya.
Saya tidak akan menceritakan detail proses perjalanan. Singkat kata, saya dan tiga kawan anggota DPR, satu diantaranya non muslim atas permintaan SHN, sudah ada didepan pintu sebuah bangunan, Begitu pintu mobil yang gelap gulita dibukakan kepada kami dan kami beranjak turun, kami tidak tahu apakah kami berada dilantai atas, diatas tanah atau di basement. Kami tidak dibenarkan membawa alat elektronik kamera, hand phone apapun, karena bisa dimonitor secara digital. Hari, jam dan menit keberangkatan diberitahukan kepada kami di menit terakhir sebelum keberangkatan. Sampai jam terakhirpun kami diberi tahu rencana kami belum bisa dipasttikan.
Didalam ruangan yang sejuk, rapi dan bersih, kami dipersilahkan duduk ditemani beberapa pengawal, pejabat Hizbullah dan penerjemah Inggris yang fasih. Tak lama kemudian muncullah sang Sayyid yang oleh Israel, Amerika dan semua gengnya dijuluki sebagai “teroris”. Kami semua disalami dan dipeluknya, tak terkecuali yang non muslim, dan disitulah saya yang tadinya sedikit gemetaran menjadi tenang dan tenteram merasakan kehangatan tubuh dan sikapnya. Mungkin agak berlebihan bila saya katakan bahwa sosok ini tidak asing di benak saya. Bukan karena saya sudah sering melihat gambarnya, tapi bagi saya dia seolah “reinkarnasi” Imam Ali yang sering digambarkan dalam riwayat dan buku tarikh. Berperawakan gemuk berotot, tidak tinggi, berkulit agak gelap dibanding rata-rata orang Lebanon, dengan mata tajam, bersinar tapi ramah. Bila pejuang semulia ini yang memperjuangkan hak-hak rakyatnya dan tidak pernah menzalimi, apalagi menyakiti atau membunuh manusia tidak bersalah diberi julukan “teroris, sebagaimana dahulu julukan yang sama diberikan kepada pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa penjajahan, maka setiap muslim seharusnya berdoa kepada-Nya agar diberi kekuatan untuk menjadi “teroris”.
Kami duduk di sebuah ruangan terang benderang, sekitar lima kali delapan meter. Ruangan itu dibatasi oleh partisi-partisi bergerak, putih bersih yang memisahkannya dari ruang yang jauh lebih besar. Ada sekitar sepuluh kursi, dua didepan dan empat masing-masing disamping. Saya duduk didepan, disamping kanan SHN. Seorang pertugas membagi beberapa lembar kertas kosong kepada staf SHN untuk mencatat pembicaraan kami. Menyesal sekali saya tidak minta kertas untuk juga mencatat.
Pembicaraan saya lakukan dalam bahasa Inggris, diterjemahkan oleh penerjemah mereka, dan dijawab dalam bahasa Arab kemudian diterjemah kembali. Saya sampaikan terimakasih atas kesediaan beliau menerima kami, dan setelah memperkenalkan rombongan kami dari partai-partai yang berbeda, saya katakan bahwa kedatangan kami ke Lebanon dalam perjalanan ke Syria ini paling tidak punya dua tujuan. Pertama, melakukan penelitian tentang situasi terakhir di kawasan ini, dan kedua memberikan dukungan moril kepada para pejuang disini, terutama pejuang Hizbullah dan (pimpinan politbiro) Hamas di Suriah. Saya katakan bahwa parlemen dan rakyat Indonesia berada dibelakang seluruh pejuang disini. SHN menyambut gembira pernyataan saya dengan wajah berseri-seri dan memuji rakyat Indonesia yang konsisten mendukung perjuangan rakyat Lebanon dan Palestina.
Namun SHN juga mengatakan bahwa sejauh ini tidak satupun pemerintah negara Arab memberikan dukungan dan bantuan nyata kepada mereka, kecuali Syria. Bahkan ulama di satu negara Arab pernah mendoakan agar Hizbullah dihancurkan oleh Israel dalam pertempuaran tahun lalu. Dia tidak mengeluh karena alasan yang semua kita sudah tahu. Tapi dia yakin rakyat negara-negara Arab dan Muslim ada dibelakang mereka. Dan kemenangan pada pertempuran yang lalu, dan pertempuran- pertempuran sebelum ini, tidak lain karena adanya “nasrun minallah” (pertolongan Tuhan), katanya.


















