Contohlah Imam Ali KWH : untuk calon penguasa (2)
Ditulis oleh dzulfikar di/pada Maret 15, 2008
By : dzulfikar
Kecerdasan, Ilmu dan Spiritualitas Imam Ali KWH, bahkan selalu menjadi rujukan dan tempat mencari solusi bagi tiga penguasa islam pasca nabi wafat, ketika mendapatkan banyak problem selama kekuasaan mereka. Imam Ali KWH adalah Imam dalam arti yang sesungguhnya. Beliau adalah panutan masyarakat banyak baik ketika menjabat khalifah ataupun tidak. Kursi kekhalifahan terasa lebih mulia ketika dijabat oleh Imam Ali KWH, dan beliau sedikitpun tidak menjadi mulia karena kursi kekhalifahan. Proses pengangkatan khalifah Ali KWH menjadi khalifah didahului oleh proses “penolakan beliau untuk diangkat menjadi Khalifah”. Banyak sejarah telah menceritakan kepada kita tentang masalah ini.
Bagi Imam Ali Kwh, jabatan khalifah yang disandangnya bukanlah untuk karir, mendapatkan kemudahan fasilitas ataupun sebagai tanda kesuksesannya. Tujuan-tujuan “rendah” seperti itu jauh dari sifat mulia Imam Ali KWH. Kursi kekhalifahanlah yang membutuhkan sosok agung Imam Ali KWH, bukan Imam Ali KWH yang membutuhkan kursi kekhalifahan. Kursi kekhalifahan menjadi berwibawa karena di jabat Imam Ali KWH, bukan Imam Ali KWH menjadi semakin agung karena jabatan khalifah.
Imam Ali KWH telah mewariskan kepada kita sebuah contoh yang berharga dalam masalah kursi / jabatan kekuasaan dan kepemimpinan. Kembali ke masalah politik tanah air Indonesia, sejatinya para kompetitor-kompetitor untuk meraih kursi jabatan kekuasaan tertentu berkaca dari sejarah Imam Ali KWH yang mengharukan.
Hendaklah anda memuliakan diri anda dahulu dengan kepribadian yang mulia, luhur dan agung. Janganlah anda berharap menjadi mulia, luhur dan agung, karena kursi kekuasaan yang anda duduki. Tengoklah diri anda dahulu, apakah anda cukup pantas untuk duduk di kursi kepemimpinan atau kekuasaan ? jangan sampai “ketidak pantasan” diri anda, justru “mengotori” nilai mulia sebuah kursi kepemimpinan atau kekuasaan. Bertarunglah dalam ajang politik dengan kemuliaan, keluhuran dan keagungan anda untuk memuliakan jabatan/kursi kekuasaan. Bila anda justru berharap kemuliaan dari kursi jabatan kepemimpinan yang ingin anda raih, lebih baik anda mundur dari kompetisi politik.

















